Minggu, 27 November 2016

Aku.

Aku hanyalah anak yang berjua dalam mimpi. .
Aku berjuang dan kuterjang dalam peperangan..
Aku berperan kecil dalam Indonesia ku.

Sebesar ciutan pupus kau beri padanya
Hanya yang bertanda kau lirik
Apalah arti diriku yang tanpa tanda...

Kata orang TERfavorit
Kata orang BERtanda
Kata orang BERnuansa  ..

Aku dengan segala mimpiku, ..
Tetap ku perjuangkan hingga detak jantung tak bernadi.

Minggu, 20 November 2016

Sahabat SMA

Jakarta, 19'Nov 2016 . . .
Sahabat,
Teman seperjuangan.. melatih keluh kesal dengan menahan nafsu amarah.
Yah dia ada sahabat ku sebangku pula namanya Ade sulastri perempuan kelahiran tahun 2000 bulan oktober ini sepekan lalu bertanding di Kota metropolitan..
Diseberang sana' ia menguatkan seluruh nadinya demi memetik hasil yg tak terkira...
Selamat sobat kali ini kau berhasil 'Lagi'.
Tetap smngat berjuanglah terus hingga umpama akhir tua mu berkesan.
Dan ingatlah selalu pada-Nya dan tetap rendah hati♥  ^^
'Melihat masa Depan . . .'
R.A.

Jumat, 18 November 2016

Kekasih orang

Hai pujangga, tak bersapa. . .
Bersahutan dalam pekik nadi
Melirik kekasih orang sana'

Senandung cinta menelan hasrat
Membakar jiwa tuk memiliki
Kuterjang rasa hati
Tanpa sadar menaungi

Hai pujangga, tak bersapa . . .
Kenalkan aku gadis desa
Sang penyuka tak bermakna

Sekalipun kekasih orang
Kurambat tanpa nama ...

R.A.

Rabu, 16 November 2016

Corak mimpi

Dunia tanpa batas diseberang sana'
Dunia fana penuh mimpi serta cita
Dimensi yang indah tanpa ruang dan waktu . .

Pergerakan aksi anak negeri,
Menjulang semakin tinggi..
Meraup puncak kejayaan . .

. . .
Atap rapuh, berbolong pula
Tak sedikitpun menciut nadi ini
Tuk mengepul ilmu tanpa batas ..

Bekal tuk jadi pemimpin negeri.

R.A.

Selasa, 15 November 2016

Guncangan

Saat ini masa yang sulit
Sulit ditebak
Sulit dijelaskan
Sulit diperjuangkan

Khayalan semakin dekat
Musuh bak kekuatan yang meningkat
Terpikul beban dihasrat yang semakin menyayat secara perlahan..

Dan, . .

Nafasku terhenti sejenak,
Dikala aku berpikir menyerah
Namun, hentaian nafas menamparku


Ini hidup . . Bukan hanya senang yang kudapat
Masa sulitlah yang mendidikku menjadi insan bermakna.

R.A.

Minggu, 13 November 2016

Realita

Serasa diujung tanduk,
Ingin pergi hingga mati
Angin berhembus menghampiri
Tak kalah ku menghindar
Meratapi lebih dalam kediamanku ..

Bertempuh dalam diam
Cekikikan dalam kedimensian
Dilabui musuh baru terdiam
Rintihan menjadi pegangan

Terdengar namun tak teramal
Penghujat rasa kebencian
Terlalu tajam menghantam

Berjuang ananda diseberang sana'
Tuk pikul beban, menghasilkan hasrat penuh makna ..

Teruntuk negeriku, ini realita hidup..

Hujan menepis kerinduan

Pontianak, 19 juli'16 . . .

Kala itu hujan turun dengan deras
Mental ku tak kalah bercurah kedinginan
Hempasan nafas kuatur dengan sengit
Namun, ..
Tak sedikit jua, terlintas dibenakku wajahnya ..
Yahh menggoda keraguan .. wajahnya bergeming seakan menyapa sisi ini
Seketika Raga bergetar hebat, goncangan ompahan darah berjulang besemutan..
Ku berpikir sejenak . .
Tunggu. Kaca tetaplah kaca .
Ukiran keindahan sekian detik retak,
Merabah kesakitan yang tak terungkap.
Yah, ku tersadar . . Dimensi kau dan aku berbeda.

-diamond

Sabtu, 08 Oktober 2016

Pelajar Pelopor (LLAJ) KALBAR


PONTIANAK,-
     Senin (5/9) pukul 09.00 WIB. Senandung ceria tidak dapat saya tahan ketika, mendengar kabar saya termasuk dalam perwakilan dari Kota Pontianak untuk berpatisipasi dalam pemilihan Pelajar Pelopor keselamatan Lalu lintas dan angkutan jalan Se-Kalimantan Barat 2016.  Kesempatan pada kali ini membuat saya merasa bersemangat untuk berjuang kembali untuk meraih hasil yang terbaik. Sebelumnya saya gagal dalam pemilihan Pelajar Pelopor yang ada di Kota Pontianak.      
     Persiapan kurang lebih 7 hari yang sangat terbatas ini, saya manfaatkan dengan sesungguh mungkin. Hal inilah yang membuat saya menarik ketika persiapan dilakukan dengan bantuan tim Jurnalis Sastra. Sebagai bentuk media penyebaran ide saya dalam menerapkan program tertib lalu lintas khususnya oleh Pelajar.

     Masyarakat memberikan tanggapan yang positif ketika saya dan Tim melakukan penyebaran informasi dalam bentuk media cetak. Satu diantaranya adalah brosur yang dilakukan di bundaran UNTAN pada hari sabtu, (10/9).

     Kegiatan dilaksanakan di Hotel Dangau, Kabupaten Kubu raya. Kekuatan maupun kerja sama Tim yang membuat saya bisa termasuk dalam peringkat 10 sebagai Pelajar Pelopor keselamatan lalu lintas Se-KalBar. Pengalaman tetap menjadi tujuan awal saya ketika bertemu lingkungan baru, orang-orang baru dengan suasana yang berbeda ini menampar saya sekeras mungkin bahwa kami delegasi dari sekolah masing-masing perwakilan tetap memiliki tujuan yang sama, dalam membangun masyarakat tertib lalu lintas dengan bantuan kepolisian setempat serta intervensi dari Dishub.

    Saya mendapatkan pelajaran bahwa pengalaman hidup seseorang tidak terbatas oleh dimensi ruang dan waktu. (RA)

Kamis, 25 Agustus 2016

kritikan ku

ketika kita mendengar deru pertimbangan yang semakin menekan keadaan, maka tak salah jika kau berpikir yang kau lakukan selalu salah.
terkadang, kita berpikir pada satu poros kehidupan dimana kau akan bertentangan dengan kelayakan atau tidaknya paradigma tersebut.
aku hanyalah seseorang yang bertekad besar akan mimpi serta cita-citaku.
bukalah pandanganmu dengan lebar mulailah untuk melihat isi dunia ini dengan luas banyak hal yang harus kau pertahankan dan kau perjuangkan..
kasih sayang, prestasi, keluarga.

sedih boleh saja menimpaku, namun tak akan lama untuk mengalami hal yang sia sia untuku.
-R.A.

Jumat, 22 Juli 2016

lupakan.

kau tahu? ketika kau sedang jatuh cinta maka duniamu akan berbeda dari yang kau duga, perlahan tapi pasti kau akan segera mengenal rasa sakit. yah... rasa sakit yang tak bisa dijelaskan, ABSTRAK yah mungkin itu kata yang tepat untuk menggaris bawahi maknanya. ketika dunia dimana orang-orang saling berperan dengan kewajibannya masing-masing berfokus pada satu titik masalah besar dimana titik itu merupakan satu impian dan tujuan hidup mereka maka seketika itu akan selalu ada hambatan yang membuatmu kehilangan arah tujuanmu. tak banyak hal yang bisa kukatakan, ini sesuai alur apa yang persis kupikirkan saat ini. mengalah? huh, aku tidak pernah melakukan itu sebelum berjuang. tapi ini sungguh berbeda, diluar kekuasaanku, diluar batas kemampuanku, aku tak lagi kuat.. aku tak lagi berdaya jika harus berhadapan dengan ini.

ohya, tak perlu sungkan tentunya untuk berbagi dengan semua orang. orang orang yang kukenali, orang yang dekat denganku atau bahkan pada orang yang tak kukenali sama sekali. tak keberatan bagiku, saling bertukar pkiran serta pengalaman. ketahuilah, ketika kau seorang diri berteman pada orang yang seharusnya kau sadari dari dahulu bahwa kau tak pantas untuk menjadi temannya. itu akan sangat menyakitkanmu, menyakiti perasaanmu, melukai ragamu. alay? yah terserah karena itulah dia hal yang tak bisa kulogiskan ketika jatuh cinta. apakah aku baru saja mengatakan aku jatuh cinta? apa aku barusaja mengakui keberadaanya? atau mungkin kini hanya sekedar sebuah ilusi yang kutulis dengan irama yang mengada-ada? apakah ini hanya sebuah memo yang kubagi diblogku hanya untuk sebagai khiasan yang menjadi kenangan dan akan kuingat kembali sewaktu saja?.. ah tidak itu terlalu berlebihan kurasa duniaku akan lebih baik tanpa adanya cinta.
percayalah bahwasanya jatuh cinta diam-diam itu sangat menyakitkan, kau melukai perasaanmu sendiri tanpa kau sadari secara perlahan namun pasti,,

-penulis amatir

Senin, 18 Juli 2016

Jurnalis sastra HotNews!


TETRA PONTIANAK,-
  
    Senin (18/7) pukul 08.00 WIB. Tetra kembali hadir mewarnai suasana dengan khas penyambutannya dalam kegiatan penerimaan siswa baru yang bertepatan di SMA Negeri 4 Pontianak. Kegiatan tersebut diawali dengan kegiatan apel penyambutan siswa baru yang diikuti oleh kelas 10, 11, dan 12. Kata sambutan yang diberikan oleh kepala sekolah SMA Negeri 4 Pontianak, yakni Herni Yamasitha, M.Pd membuat semangat pagi cukup berkobar.
 
    Apel pagi yang terlaksana dengan lancar yang kemudian ditindak lanjuti oleh pihak sekolah dengan arahan yang diberikan. Untuk siswa baru diberi arahan untuk melakukan pendaftaran ulang yang berlangsung dari jam 8 s/d 12 siang. Para siswa mendaftar ulang didampingi oleh orang tua masing-masing dan berlanjut hingga tanggal 19 Juli,2016.

    Tentunya siswa baru yang memilih masuk ke Tetra memiliki berbagai dorongan dan motivasi yang dijadikan sebagai alasan untuk bergabung sebagai keluarga besar Tetra. Satu diantaranya yang disampaikan oleh Valentine querubin hermanto “Saya memilih bersekolah di Tetra karena saya tertarik dengan kegiatan ekstrakulikuler disini, terutama English club foursters dan terlebih lagi saya ingin mengembangkan kemampuan bahasa inggris saya di sekolah ini, dengan saya bersekolah disini tentunya saya akan mengenyam pendidikan sambil mengukir prestasi karena mengukir prestasi merupakan faktor kepuasaan pribadi bagi saya” (RA/RM)

Continue..

Selasa, 05 Juli 2016

Segenap rasa syukur..

Mohon maaf lahir dan batin...
Yaah ini dia yg paling ditunggu setiap tahun, ketika kaki ini mulah melangkah kan khidmat serta kandungan ayat suci-Nya terdengar menderu disetiap subuh hingga adzan mahgrib berkumandang.
Allahu akbar.. Allahu akbar..Allahu akbar.. Laa Ilaa Ha ilallah huAllah huAkbar..
Semakin dekat semakin mendegup kencang penglihatan penatku ini..

Taklama berkabar bulan penuh suci ini meninggalkan ku ditahun ini .. (Lagi) untuk kesekian kalinya.
Yah, aku sedang curhat bukan karena kelebayan.. tapi karena keinginan yg sejak lama kupendam.
Jari-jari ini ingin menari-nari diatas ketikan layar monitor ku yg kini sedang kulakukan, jangan beranggapan aku sedang melakukan hal yg tak berguna itu sungguh sebuah pernyataan yg konyol..
Kalian seolah beberapa diantara pembaca yg mungkin bahkan akan mengganggap ku gila but.. this the real statement. Aku sedang tak bercanda sedikitpun maksudku yahh bagaimana orang akan berpikir 'orang gila mana yng "tak"merasakan kebahagiaan di malam takbir hingga sosok itu menahan rasa kantuk yg mendalam akibat pemikiran yg selalu berandai andai..' yah orang GILA itu AKU. 
Aku merasakan kesedihan dimalam ini hingga kutaha rasa kantuk hingga menjelang subuh.. aku berani berkata seluruh ratusan juta umat islam kini diluar sana berbahagia di malam takbir hingga tiba kebahagiaan berkumpul bersama keluarga. Dan juga aku berani menyatakan ada beberapa diantara mereka diluar sana yg kurang beruntung. YAH.. kami.. kurang beruntung.

Aku berharap secapat atau lamban kebahagiaan itu akan segera menghampiriku..

Note's :
*Ini hanya sekedar piluan yg menghampiri secara tak berkala, hingga memaksa jari-jari ku yang tanpa kusadari mengutarakan hasrat ini.. maaf curhat ... but I love it. Berbagi rasa serta pengalaman kpd orang banyak itu terkadang menyenangkan dan mampu membuat hati ini terasa kembali tenang ..

( for anyone out there reading this ) ..

-hanya penulis amatir

Kamis, 09 Juni 2016

Alangkah lebih indah jika dunia ini terang..

NEGERIKU DIUJUNG KEGELAPAN
    
     Warna merah keemasan merajai cahaya langit di belahan barat, membuat separuh jiwaku pilu seperti siang yang sebentar lagi hilang ditelan pekatnya malam. Disini terdengar kericuhan, kesakitan, kelaparan... tanpa adanya hati, dan perasaan kecewa yang kami teriaki. Oh tuhan seperti inikah kisah hidup yang keluargaku alami?... “Allah Huakbar.....,Allah huakbar.....” suara adzan yang terdengar membangunkan ku dari kepiluan ini, segera kubangkitkan diriku menuju ke masjid, aku mengambil air wudhu kemudian mengikuti para pemuda itu di barisan sajadah. Disini tanah tempat kami tinggal, disinilah kami dibesarkan di tengah-tengah kota yang berkembang pesat ini kami tersingkirkan.
     Perubahan zaman ynag terjadi dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi di era modern ini membutakan mata hingga berubah menjadi abu. Seakan kau hidup ditengan-tengah kota yang maju namun tak berkarakter. Apalah arti daya kami rakyat kecil yang hanya bisa mengemis perhatian dari mereka yang lebih mampu dari kehidupan kami. Jakarta 25-4-2006, catatan hidupku namaku asep aku hanya seorang anak paling tua dari 3 bersaudara yang memiliki ayah sudah tua berusia 68 tahun ibuku sudah meninggal 6 tahun yang lalu, ketika menjadi TKW di negara tetangga pada saat itu tidak ada yang lebih perduli, negara tetangga lah harapan hasil dari uang selama beberapa tahun yang mencukupi kebutuhan hidup kami. Ibuku menjadi TKW karena terpaksa untuk memenuhi kehidupan keluarga kami dikarenakan ayah sedang sakit parah, ibuku hanyalah seorang wanita biasa yang memiliki 3 anak dan tidak mempunyai kemampuan lebih ia hanya bagian dari rakyat kecil yang memiliki ijazah pendidikan sekolah dasar. Ibuku dituduh mencuri pada saat bekerja dan dihukum mati oleh pemerintah negara tetangga. Indonesia? Hanya diam mereka rakyat besar hanya bisa menikmati kekayaan dan kehidupan mereka masing-masing.
      Aku asep, akulah yang akan meneruskan kehidupan keluarga kecil kami, aku merawat ayahku saat ini yang hanya bisa berbaring ditempat tidur. Adikku nela dan nazwa yang sedang kuusahakan dengan jerih payah ku agar mereka bisa melanjutkan kependidikan selanjutya yakni sekolah menengah pertama. Aku tidak mau melihat tatapan pupus harapan di mata adik-adikku, aku mau mereka bangkit dan menjadi orang yang lebih sukses dari ayah ibu dan abangnya yang hanya bisa bekerja menjadi seorang pemulung dan pembantu. Oh nela nazwa jadilah anak yang benar-benar memanfaatkan dengan segala situasi yang ada belajarlah dengan sungguh-sungguh, dibalik ini semua akan selalu ada abangmu yang akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengukir masa depan kalian yang bahagia. Kepedihan, kesakitan yang selalu kami rasakan yang membuatku terbiasa dengan cacian para rakyat besar. Sore hari, “asep, ayah mau minum” pinta ayahku, segera kuberlari mengambil gelas ke sumur yang jaraknya lumayan jauh hanya untuk sekadar mengambil air yang bersih untuk ayah minum.
Nela dan nazwa berjalan seiringan dengan ku saat berangkat bekerja. Aku bangga melihat senyuman semangat mereka ketika menggunakan pakaian putih biru yang berhasil kubelikan dengan hasil jerih payahku bekerja selama sebulan menjadi buruh sementara.  Tidak mendapat Keadilan? Hal yang sering muncul dalam benakku. Saat bekerja banyak sekali rintangan yang kuhadapi, mulai dari hinaan para rakyat besar cacian, yang memicu karena kondisi tubuhku yang berbau tidak sedap. Tak kuasa ku menahan amarah dalam diri hingga selalu kulampiaskan ketika berdoa untuk menenangkan diri. Sore menjelang malam, menuju rumahku yang sangat jauh, butuh berjam-jam untuk berjalan kaki dan sampai di rumah. Gubuk yang semakin rusuh, lecek, basah bahkan sering banjir karena hujan yang lebat dan beban yang tidak mampu ditahan olehnya. Inilah tempat tinggal kami rakyat kecil. Daerah yang sangat jauh dari keadaan dan perhatian pemerintah kota. Didaerah pinggiran kota yang kumuh dan sangat berbau tidak sedap. Memang betul selalu menjadi wacana pembicaraan orang banyak, namun hanya sedikit yang mau berkunjung dan membagikan bahan sembako, pakaian bekas, dan sebagainya.

     Kisah hidupku sangat berat bagaikan sebuah mimpi buruk yang harus dilalui , mimpi ini terkadang memaksaku untuk tersenyum dan menangis. Maka disitulah aku mengingat cahaya ilahi itu akan muncul untuk menguatkan seluruh raga ini menahan air mata yang ingin menetes, karena tak kuat sudah banyak beban yang dipikul namun aku tetap mensyukuri apapun yang ada. Dimasa kritis ini, tingkat pengangguran dikota sangatlah meningkat, kejahatan beredar dimana-mana yang pada saat itu aku bekerja mengunjungi pusat penyetoran botol-botol bekas yang berhasil kukumpulkan namun tiba-tiba ada sekelompok preman yang mau mengambil hasil kerjaku pada sore hari itu, Apalah salahku, aku hanya seorang pemulung yang berusaha memungut sampah plastik untuk memenuhi kehidupan keluarga kecilku. “pergi kau!, aku tidak pernah mengambil hak milikmu! Mengapa kalian tega ingin mengambil HAK MILIKKU!!” Aku melawan tanpa henti badan ku yang kurus kecil tak berdaya ini tak mampu melawan kekuatan otot 3 orang yang berbadan kekar itu. “hei kau pemulung yang berbadan bau! Ini daerah wilayah kami! Kalau kau mau tetap bekerja didaerah ini kau harus membayar!!!..”
Oh Tuhan aku pasrah padaMu ingin sekali ku hentikan semua dimensi waktu yang ada pada saat ini aku ingin meneriaki ketidakadilan yang kurasakan dalam hidup ini, aku pasrah mengadu nasib namun TIDAK pada saat ini. “aku tidak memiliki uang!!! Kalian pikir kalian siapa!! Aku hanya menumpang mengais rezeki disini!! Tuhan lah yang memiliki semua ini bukan kalian!! Kalian juga penumpang didaerah ini...tolong dengarkanlah rintihanku kali ini aku memang berasal dari rakyat kecil biasa. Bukankah kalian juga begitu? Tapi cara kalian salah untuk mencukupi kebutuhan hidup kalian!! Ini bukanlah cara yang tepat hal yang kalian lakukan ini hanya bisa menambah dosa pada diri kalian...” aku menerpa dan membalas pukulan dari 3 tangan yang berbadan kekar itu aku tak mampu menahan air mata, kemudian ku berlari menjauh dari 3 orang yang kulihat saat ini menunduk dan tak sedikitpun berkata-kata. Sesampai dirumah, perjalanan yang teriringi dengan tetesan air mata tanpa henti, para pemimpin rakyat dimana letak peran kalian? Dimana hasil dari kerja kalian? Dimana semua letak keadilan hidup didunia ini? apakah aku salah berkata dan sering sekali berfikiran seperti ini... nela dan nazwa sudah menungguku dari tadi didepan pintu rumah yang reot itu, “abang...ayah tadi batuk berdarah..” pinta nazwa dan nela yang sambil menangis dan terbata-bata. “apa!? ..” aku langsung terkejut seolah tak percaya separah inikah penyakit ayah?....
Kuberdiam diri, memaksakan pintaku untuk tetap tersenyum ketika itu pula Adzan mahgrib berkumandang, rasa pilu ini semakin dalam memasuki jalan fikiranku, embun yang menetes tanpa alur yang jelas menanti kerinduan yang tak tersampaikan. Jeritan-jeritan itu selalu terdengar tanpa ada jawaban yang pasti. Kapankah hidup ini akan tersempurnakan seperti mimpi yang ku andai-andaikan. Malam itu kami sholat berjamaah mendoakan kesehatan ayah. Aku merebus ubi, dan kubagikan ke ayah nela dan nazwa. Aku hanya minum air putih karena penghasilanku hari ini hanya cukup untuk mereka bertiga. Ku tak sanggup melihat ayah terbatuk-batuk dan berkata “abang.. abang tidak makan? Ini ayah sudah kenyang, dimakan yah ubi ayah...” air mata ku menetes, kuambil sepotong ubi bekas ayah dan segera ku makan. Kesedihan yang selalu datang disetiap malam. Setelah itu aku membersihkan mencuci piring dan menyiapkan perlengkapan untuk bekerja esok hari, nela dan nazwa menghampiriku. “Abang... nela sama nazwa tadi dipanggil kekantor guru, kata ibu guru nela dan nazwa belum bayar buku lks sekolah dan diberi batas waktu membayar kamis ini kalau tidak bayar nela dan nazwa tidak bisa mengikuti proses pembelajaran selama dikelas..” aku berhenti sejenak meratapi kedua mata gadis kecil yang kusayangi, “nela dan nazwa sayang.. iyaa abang ngerti besok abang usahakan yah kalian pasti bisa melunaskan buku lks itu kok tetap semangat yah adik-adik abang belajarnya..” mereka memelukku dengan erat, kemudian mereka tidur.
Secara diam-diam kuperhatikan lekukan wajah senyum mereka, wajah yang membuatku untuk semangat bekerja membuat mereka bahagia. Dini hari, aku terbangun mengambil air wudhu dan sholat tahajud. Kutuangkan semua kepedihan selama seharian ini yang kualami, kucurahkan semuanya hingga kumerasa puas. “ibu...ibu yang kusayang apa kabar engkau disana? Semoga Tuhan menempatkanmu di tempat yang indah, lebih dari indah didunia ini. Engkau adalah sosok inspirasiku bu, sungguh bu aku rindu padamu...” pintaku dalam hati. Setelah itu, aku lanjut beristirahat dan menunggu matahari terbit.

     Kicauan burung terdengar merdu, Desiran angin yang berirama  seakan membuat jiwa ini  tenang menikmati suasana pagi hari. Matahari memperlihatkan sinar keelokkannya, menembus gubuk reot ini. nela dan nazwa sudah siap untuk berangkat kesekolah, “nah adik-adik abang sudah pada cantik, udah siap yah sekolah hari ini semangat!!! Abang juga akan semangat mencari uang untuk membayar buku lks kalian..” kataku dengan senyuman yang meyakinkan mereka. “iya abang, nela sama nazwa hari ini belajarnya semangat..” . Hari-hari kujalani dengan semangat jiwa yang penuh, kubayangkan senyum bahagia nela dan nazwa nantinya. Kini aku berjalan menelusuri jalanan yang sesekali ku dilihat dan dipandang orang banyak, tanpa rasa perduli kemeneruskan perjalanan dan tujuan ku. Hingga kumenemukan hal yang kucari aku bekerja menjadi tukang sementara untuk beberapa hari ini agar menambah biaya untuk membayar kebutuhan nela dan nazwa.
     Mulai dari ini aku belajar, berusaha semaksimal mungkin tanpa ada kata henti hingga tuhan berkata waktunya pulang. Aku butuh karakter yang berjiwa besar yang mampu merubah seluruh mimpi buruk ini. Rakyat besar yang selalu muncul dalam benakku mereka yang kaya akan bertambah kaya, dan rakyat kecil mereka yang miskin bertambah miskin, arus kehidupan yang kulalui tak boleh kubiarkan terus-menerus seperti ini, bagaimana dengan generasi penerus bangsa selanjutnya. Bagaimana nasib anak bangsa yang akan datang? Tidak akan ada kemajuan di negeri ini. Mulai dari hal kecil yang kulakukan, semoga akan berdampak besar bagi orang lain. Beberapa hari selama ku bekerja sebagai tukang sementara, aku mendapatkan hasil yang cukup memuaskan akhirnya uang yang kuhasilkan ini cukup untuk membayar buku lksnya nela dan nazwa mereka pasti akan senang sekali mendengar kabar gembira ini. Siang yang terik membakar kulitku, tak perduli berapa banyak tetesan keringat yang terbuang yang terpenting saat ini nela dan nazwa bisa kembali bersekolah dengan baik. Saat sampai didaerah tempat tinggalku, aku melihat banyak orang yang sedang mengerumuni gubuk tua dan reot itu, kuperhatikan sekilas seperti tidak asinng lagi.. yah! Mereka adalah nela dan nazwa yang sedang menangis dan berteriak sesekali memangilku. Aku segera berlari menghampiri mereka  “ada apa ini!..” mata ku tajam melihat sosok orang yang kuhormati dan kurawat sealama ini sedang pingsan dan mengeluarkan banyak darah disepanjang tubuhnya. “Ayah..!!!!!” aku berteriak histeris, “Ayah bangun ayah...” aku segera berlari membawa ayahku kerumahsakit terdekat dikota ini, nela dan nazwa kutitipkan pada salah satu warga yang kupercayai. “Ayah.. ayah bertahan yah.. abang pasti akan berusaha untuk menyembuhkan ayah..” saat sampai di rumah sakit terdekat semua orang memandangiku dan menutup hidung. Aku tetap berlari dan minta pertolongan pada salah satu suster, “sus tolong ayah saya sus... selamatkan beliau, saya akan kasi apapun yang sayang miliki asalkan suster dan dokter bisa menyembuhkan ayah saya...” aku terisak menangis dihadapan mereka. “maaf tuan sebelum melakukan pengecekan ataupun proses penyembuhan anda terlebih dahulu harus memberikan uang muka kepada kami dan transaksi agar kami yakin dan percaya bahwa anda akan membayar seluruh aspek yang akan digunakan untuk menyembuhkan ayah anda..” pinta suster itu kepadaku. “sus tolong saya mohon sekali utamakanlah dahulu nyawa ayah saya sus, selama itu saya akan bekerja mencari uang sebanyak-banyaknya untuk membayar utang budi saya kepada rumah sakit ini saya mohon sus.... saya hanyalah rakyat miskin yang tinggi dipinggiran kota Jakarta..” aku bersujud memohon dikaki suster aku tak perduli kini semua orang mulai memandangiku lagi dan mulai berbisik-bisik membicarakan tingkah laku bodohku ditempat umum ini. “maaf tuan kami tetap tidak berani untuk langsung melakukan proses penyembuhan ayah anda sebelum tuan membayar uang muka sebagaimana peraturan ini sudah berlaku sejak tahun 2003..” , “dasar biadab! Terbuat dari apakah HATI kalian ini!!!.. tak pernah kah ada rasa kasihan dan sedih kalian tentang kami..”. Aku langsung membawa pergi Ayahku, oh Tuhan kemanakah arah pergi yang harus kutempuh saat ini, kuterus melanjutkan perjalanan ini disetiap rumah sakit banyak yang menolak ku seperti awal. Ketika berada di salah satu rumah sakit didekat daerah kota Tangerang alhamdulilah suster dan dokter disitu mau menolong kondisi kami, saat dilakukan pengecekan didalam ruangan aku disuruh menunggu diluar namun apa daya dokter itu keluar dengan menyampaikan sebuah pesan yang tak sesuai dengan harapan. “Maaf nak, Ayah kamu telat diberikan pertolongan pertama, sehingga pukul 20.35 tadi ayahmu sudah Tiada..” semudah itu dokter mengatakannya. Aku hanya bisa berkata “Dok, terimakasih atas bantuan yang telah diberikan dan maaf atas tindak kecerobohan saya yang merepotkan kalian..” setelah itu aku membawa pulang jasad ayahku dan diantar oleh pak dokter yang baik hati itu.
     Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri, didalam hatiku aku sudah menampar diriku dengan sangat keras. Andaikan cahaya Ilahi itu memperlihatkan jalan kemudahan yang sesungguhnyaa, kehidupan yang selama ini tak tersempurnakan mungkin inilah dia agar Ayah tak merasakan kesakitan yang terlalu lama dengan alunan senada kami memandikan jasad ayah bersama-sama dan kemudian memakaikan kain kafan yang telah disiapkan oleh warga. Keputihan wajahnya yang terpancar, membuat senyum ini terukir membayangkan Ia akan hidup kekal yang abadi dan bahagia disana bertemu dengan Ibu.  Nela dan nazwa tidak henti-hentinya menangis saat proses penguburan dilaksanakan. “adik-adik abang kan pintar masa sih nangis, ayah tapi sangat senang disana bertemu ibu.. nah nela dan nazwa kan masih punya abang sebaiknya nela dan nazwa kini yang harus buat abang bangga kalau nela dan nazwa sukses dan berprestasi pasti ayah dan ibu dari atas sana juga akan bahagia melihat nela nazwa dan abang disini..” aku berusaha menenangkan adik-adikku dengan kata-kata. Makna kata-kata yang kutuangkan pada mereka sama sekali tidak ada artinya untuk menenangkan hatiku. Sesekali semua orang menatap kami sebagai yatim piatu. Setelah dari proses penguburan dan untuk keterakhir kalinya melihat wajah Ayah yang kami sayangi, aku dan adik-adik meninggalkan tempat peristirahatan yang tenang itu.

    Kami semua membutuhkan pendidikan yang pantas di era modern ini, kami butuh peluang yang dapat kami samakan dengan kesetaraan penduduk di penjuru negeri ini. cukuplah sudah jika tak ada yang mau berusaha maka yang miskin akan tetap miskin dan yang kaya akan bertambah kaya raya. INDONESIA, negara yang dipandang oleh negara lain sebagai negara yang akan kaya rempah-rempahnya, kaya solidaritasnya, keramah-tamahannya. Sungguh aku tak merasakan semua hal itu. Tikus-tikus yang berdasi, yang hanya bisa memerintah dan menguasai disetiap daerah yang menjadi pertahanan kekayaannya. Aku kini berdiri ditanah negeri kelahiranku bersama keluarga kecil serta rakyat yang tersingkirkan. Jangankan hanya kota ku, kota lain tentu pasti ada yang merasakan kesengsaraan kesakitan dan kelaparan seperti rakyat kecil ini, sungguh negeri yang berada ditengah kegengsian politik dan ekonomi tersaingin oleh beberapa faktor yang tak bisa kami mengerti. Yang kami butuhkan saat ini hanyalah kunci pertahanan yang berkarakter dalam artian kesempurnaan dalam menjalankan hidup mendapatkan tempat tinggal yang layak, pakaian, pendidikan makanan serta pekerjaan yang bisa menstabilkan perekonomian di seluruh negeri ini.
     Sungguh disini, dipinggiran kota ini ada sebuah kehidupan yang pantas dilirik oleh para pemimpin rakyat dan rakyat besar, setiap kami yang hidup disini memiliki mimpi-mimpi yang sedang kami usahakan agar menjadi nyata. Kami membutuhkan hak kami untuk dilindungi sebagian dari kami sudah berupaya besar membentuk karakter untuk generasi kami. Aku berkata dalam hati “aku berasal dari generasi yang bisa membuat sebuah perubahan namun, tak ada yang pernah tahu kapan kami bisa melakukannya tanpa bantuan pemerintah hal ini seharusnya merupakan hal yang pantas diperjuangkan oleh seluruh warga bangsa. Kami bukan babu bukan juga budak yang gampang diremehkan. Terimakasih Indonesia ku jika engkau mendengarkan suara jeritan kami. Aku asep aku dan adik-adik ini yang akan berusaha terus-meneruskan memperjuagkan atas hak apa yang pantas diperjuangkan demi kesejahteraan hidup ini. Sungguh Negeriku Indonesia berada diujung KEGELAPAN.



Cerpen
KARYA : R.A.

Kamis, 02 Juni 2016

Jurnalis have a story

#JURNALISSASTRA
12'Maret,2016... 🍃

Hari bersejarah buat kami, mendapatkan berbagai ilmu yang sangat menambah wawasan kami. Sang Senior berkata "Bahasa kita adalah Identitas Bangsa Indonesia" sungguh menyedihkan ketika anak muda mulai melupakan bahasa Bangsanya sendiri. Kami yang berproses saat ini, berusaha untuk memperkuat mental serta kepercayaan diri dalam membangun Bangsa yang berkualitas. Dalam dunia Tulis Menulis inilah, semua tergantung pada media..kini kami mengerti betapa Pentingnya sebuah TULISAN📝 yang sangat mudah 'MENGHITAMKAN' ataupun 'MEMUTIHKAN' SECARIK KERTAS TANPA NODA. Antara Fakta dan Opini saat ini sulit untuk dibedakan maka dari itu kita perlu Memperbaiki apa yang Harus diperbaiki. Melalui satu kekuatan TIM JURNALIS SASTRA TETRA inilah kami memulai untuk satu impian dengan segenap cita-cita yang kami dambakan.

The best experience💓💕👌👏😍😍🎉 #JurnalisSastra #TETRA #Jurnalistik #Broadcasting #Jurnalism

Keep your moment with ur family💙
At Dinas Kesehatan provinsi kalimangan barat.

Senin, 30 Mei 2016

The last day

Segelintir udara yang menghiasi indahnya pagi ini...
Mengingatkan pada ku ketika pertama kali menginjaki lingkungan asing ini...

Hari telah berganti..
Seiring waktu perjalananku begitu panjang...
Mengkaji dinding-dinding perbatasan..
Zona aman, zona bahaya ku terjang . .
Waktu silih berperang menghantam perkarangan yang tajam..

Aaaa -w- cukup untuk berhalusinasinyaa...
Well, kenapa aku bilang hari ini hari terakhir.. yeeee karna emang ini hari terakhir jadi anak kelas 10 :'v YEAY!!!!
Aku akan jadi kakak kelas HAHAHAHA :v yg pastinya bukan jadi 'SENIOR YG JAHAT',…………

Berbicara mengenai senior :v
Senior diskolah cukup baik.. tapi kate orang pontianak tu 'agak bengak' dikatekan bagos tadak gak bagos dikatekan normal tadak gak normal. Cemane yee agak benyaii sengak agikk..
Tapi asyikk 😅  uda sampai situk jak abes kate dah.. :v bhay.

Minggu, 29 Mei 2016

The story of EC4

The people don't know the story of us, until the extraordinary things we've ever had together. it's all about the beauty of togetherness, family, caring. as a happy little family, we always support each other without the word stop. Even when we are betrayed Nothing says revenge. Because we understand how to uphold sportsmanship when we are in a 'COMPETITION' We love this!😙...

"In Craziness we laugh..In Competition we win... In EC4 we Live, we Laugh, We've fun!!" 😂😘💖💙💭

Diklat Jurnalistik

     RAKERDA II Dewan pimpinan daerah, Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) mengadakan pertemuan dengan tema 'Pendidikan dan latihan Jurnalistik yang bertempatan di Provinsi Kalimantan Barat Hotel merpati sabtu pada tanggal 28 mei s/d 29 mei. Pada kesempatan kali ini Mahasiswa, para wartawan dari daerah maupun kalangan remaja yang berstatus pelajar ikut menghadiri kegiatan diklat jurnalistik tersebut.
     Kegiatan dibuka dengan resmi oleh kata sambutan dari Bapak H. Sutardmiji SH,MHum selaku Walikota Pontianak. Berbicara mengenai tanggapan oleh para oknum yang terkait ikut berpatisipasi dalam kegiatan ini bersifat positif. Satu diantara tamu terhormat yakni, Sekjen Perwakilan Daerah menanggapi tentang hal peran jurnalis dalam kehidupan. "Dengan adanya peran aktif aliansi wartawan indonesia dengan sikap karakternya yang bersifat profesionalisme tentunya dapat meningkatkan sarana pembangunan informasi dalam kehidupan masyarakat" Ujarnya.
     Pengalaman yang luarbiasa ketika mendapat ilmu dari orang-orang hebat. Mengenai kegiatan pelatihan jurnalistik ini banyak pihak yang merasa beruntung ikut hadir dalam kegiatan ini.

28 Mei, 2016.

Globalisation, Global Governance & Covid-19

Pada hari Selasa, 24 Maret, 2020 seperti biasa di Mata Kuliah PKINT dilakukan secara Online melalui Google Meet. Pada kesempatan kali ini, k...