NEGERIKU DIUJUNG KEGELAPAN
Warna merah keemasan merajai cahaya langit di belahan barat, membuat separuh jiwaku pilu seperti siang yang sebentar lagi hilang ditelan pekatnya malam. Disini terdengar kericuhan, kesakitan, kelaparan... tanpa adanya hati, dan perasaan kecewa yang kami teriaki. Oh tuhan seperti inikah kisah hidup yang keluargaku alami?... “Allah Huakbar.....,Allah huakbar.....” suara adzan yang terdengar membangunkan ku dari kepiluan ini, segera kubangkitkan diriku menuju ke masjid, aku mengambil air wudhu kemudian mengikuti para pemuda itu di barisan sajadah. Disini tanah tempat kami tinggal, disinilah kami dibesarkan di tengah-tengah kota yang berkembang pesat ini kami tersingkirkan.
Perubahan zaman ynag terjadi dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi di era modern ini membutakan mata hingga berubah menjadi abu. Seakan kau hidup ditengan-tengah kota yang maju namun tak berkarakter. Apalah arti daya kami rakyat kecil yang hanya bisa mengemis perhatian dari mereka yang lebih mampu dari kehidupan kami. Jakarta 25-4-2006, catatan hidupku namaku asep aku hanya seorang anak paling tua dari 3 bersaudara yang memiliki ayah sudah tua berusia 68 tahun ibuku sudah meninggal 6 tahun yang lalu, ketika menjadi TKW di negara tetangga pada saat itu tidak ada yang lebih perduli, negara tetangga lah harapan hasil dari uang selama beberapa tahun yang mencukupi kebutuhan hidup kami. Ibuku menjadi TKW karena terpaksa untuk memenuhi kehidupan keluarga kami dikarenakan ayah sedang sakit parah, ibuku hanyalah seorang wanita biasa yang memiliki 3 anak dan tidak mempunyai kemampuan lebih ia hanya bagian dari rakyat kecil yang memiliki ijazah pendidikan sekolah dasar. Ibuku dituduh mencuri pada saat bekerja dan dihukum mati oleh pemerintah negara tetangga. Indonesia? Hanya diam mereka rakyat besar hanya bisa menikmati kekayaan dan kehidupan mereka masing-masing.
Aku asep, akulah yang akan meneruskan kehidupan keluarga kecil kami, aku merawat ayahku saat ini yang hanya bisa berbaring ditempat tidur. Adikku nela dan nazwa yang sedang kuusahakan dengan jerih payah ku agar mereka bisa melanjutkan kependidikan selanjutya yakni sekolah menengah pertama. Aku tidak mau melihat tatapan pupus harapan di mata adik-adikku, aku mau mereka bangkit dan menjadi orang yang lebih sukses dari ayah ibu dan abangnya yang hanya bisa bekerja menjadi seorang pemulung dan pembantu. Oh nela nazwa jadilah anak yang benar-benar memanfaatkan dengan segala situasi yang ada belajarlah dengan sungguh-sungguh, dibalik ini semua akan selalu ada abangmu yang akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengukir masa depan kalian yang bahagia. Kepedihan, kesakitan yang selalu kami rasakan yang membuatku terbiasa dengan cacian para rakyat besar. Sore hari, “asep, ayah mau minum” pinta ayahku, segera kuberlari mengambil gelas ke sumur yang jaraknya lumayan jauh hanya untuk sekadar mengambil air yang bersih untuk ayah minum.
Nela dan nazwa berjalan seiringan dengan ku saat berangkat bekerja. Aku bangga melihat senyuman semangat mereka ketika menggunakan pakaian putih biru yang berhasil kubelikan dengan hasil jerih payahku bekerja selama sebulan menjadi buruh sementara. Tidak mendapat Keadilan? Hal yang sering muncul dalam benakku. Saat bekerja banyak sekali rintangan yang kuhadapi, mulai dari hinaan para rakyat besar cacian, yang memicu karena kondisi tubuhku yang berbau tidak sedap. Tak kuasa ku menahan amarah dalam diri hingga selalu kulampiaskan ketika berdoa untuk menenangkan diri. Sore menjelang malam, menuju rumahku yang sangat jauh, butuh berjam-jam untuk berjalan kaki dan sampai di rumah. Gubuk yang semakin rusuh, lecek, basah bahkan sering banjir karena hujan yang lebat dan beban yang tidak mampu ditahan olehnya. Inilah tempat tinggal kami rakyat kecil. Daerah yang sangat jauh dari keadaan dan perhatian pemerintah kota. Didaerah pinggiran kota yang kumuh dan sangat berbau tidak sedap. Memang betul selalu menjadi wacana pembicaraan orang banyak, namun hanya sedikit yang mau berkunjung dan membagikan bahan sembako, pakaian bekas, dan sebagainya.
Kisah hidupku sangat berat bagaikan sebuah mimpi buruk yang harus dilalui , mimpi ini terkadang memaksaku untuk tersenyum dan menangis. Maka disitulah aku mengingat cahaya ilahi itu akan muncul untuk menguatkan seluruh raga ini menahan air mata yang ingin menetes, karena tak kuat sudah banyak beban yang dipikul namun aku tetap mensyukuri apapun yang ada. Dimasa kritis ini, tingkat pengangguran dikota sangatlah meningkat, kejahatan beredar dimana-mana yang pada saat itu aku bekerja mengunjungi pusat penyetoran botol-botol bekas yang berhasil kukumpulkan namun tiba-tiba ada sekelompok preman yang mau mengambil hasil kerjaku pada sore hari itu, Apalah salahku, aku hanya seorang pemulung yang berusaha memungut sampah plastik untuk memenuhi kehidupan keluarga kecilku. “pergi kau!, aku tidak pernah mengambil hak milikmu! Mengapa kalian tega ingin mengambil HAK MILIKKU!!” Aku melawan tanpa henti badan ku yang kurus kecil tak berdaya ini tak mampu melawan kekuatan otot 3 orang yang berbadan kekar itu. “hei kau pemulung yang berbadan bau! Ini daerah wilayah kami! Kalau kau mau tetap bekerja didaerah ini kau harus membayar!!!..”
Oh Tuhan aku pasrah padaMu ingin sekali ku hentikan semua dimensi waktu yang ada pada saat ini aku ingin meneriaki ketidakadilan yang kurasakan dalam hidup ini, aku pasrah mengadu nasib namun TIDAK pada saat ini. “aku tidak memiliki uang!!! Kalian pikir kalian siapa!! Aku hanya menumpang mengais rezeki disini!! Tuhan lah yang memiliki semua ini bukan kalian!! Kalian juga penumpang didaerah ini...tolong dengarkanlah rintihanku kali ini aku memang berasal dari rakyat kecil biasa. Bukankah kalian juga begitu? Tapi cara kalian salah untuk mencukupi kebutuhan hidup kalian!! Ini bukanlah cara yang tepat hal yang kalian lakukan ini hanya bisa menambah dosa pada diri kalian...” aku menerpa dan membalas pukulan dari 3 tangan yang berbadan kekar itu aku tak mampu menahan air mata, kemudian ku berlari menjauh dari 3 orang yang kulihat saat ini menunduk dan tak sedikitpun berkata-kata. Sesampai dirumah, perjalanan yang teriringi dengan tetesan air mata tanpa henti, para pemimpin rakyat dimana letak peran kalian? Dimana hasil dari kerja kalian? Dimana semua letak keadilan hidup didunia ini? apakah aku salah berkata dan sering sekali berfikiran seperti ini... nela dan nazwa sudah menungguku dari tadi didepan pintu rumah yang reot itu, “abang...ayah tadi batuk berdarah..” pinta nazwa dan nela yang sambil menangis dan terbata-bata. “apa!? ..” aku langsung terkejut seolah tak percaya separah inikah penyakit ayah?....
Kuberdiam diri, memaksakan pintaku untuk tetap tersenyum ketika itu pula Adzan mahgrib berkumandang, rasa pilu ini semakin dalam memasuki jalan fikiranku, embun yang menetes tanpa alur yang jelas menanti kerinduan yang tak tersampaikan. Jeritan-jeritan itu selalu terdengar tanpa ada jawaban yang pasti. Kapankah hidup ini akan tersempurnakan seperti mimpi yang ku andai-andaikan. Malam itu kami sholat berjamaah mendoakan kesehatan ayah. Aku merebus ubi, dan kubagikan ke ayah nela dan nazwa. Aku hanya minum air putih karena penghasilanku hari ini hanya cukup untuk mereka bertiga. Ku tak sanggup melihat ayah terbatuk-batuk dan berkata “abang.. abang tidak makan? Ini ayah sudah kenyang, dimakan yah ubi ayah...” air mata ku menetes, kuambil sepotong ubi bekas ayah dan segera ku makan. Kesedihan yang selalu datang disetiap malam. Setelah itu aku membersihkan mencuci piring dan menyiapkan perlengkapan untuk bekerja esok hari, nela dan nazwa menghampiriku. “Abang... nela sama nazwa tadi dipanggil kekantor guru, kata ibu guru nela dan nazwa belum bayar buku lks sekolah dan diberi batas waktu membayar kamis ini kalau tidak bayar nela dan nazwa tidak bisa mengikuti proses pembelajaran selama dikelas..” aku berhenti sejenak meratapi kedua mata gadis kecil yang kusayangi, “nela dan nazwa sayang.. iyaa abang ngerti besok abang usahakan yah kalian pasti bisa melunaskan buku lks itu kok tetap semangat yah adik-adik abang belajarnya..” mereka memelukku dengan erat, kemudian mereka tidur.
Secara diam-diam kuperhatikan lekukan wajah senyum mereka, wajah yang membuatku untuk semangat bekerja membuat mereka bahagia. Dini hari, aku terbangun mengambil air wudhu dan sholat tahajud. Kutuangkan semua kepedihan selama seharian ini yang kualami, kucurahkan semuanya hingga kumerasa puas. “ibu...ibu yang kusayang apa kabar engkau disana? Semoga Tuhan menempatkanmu di tempat yang indah, lebih dari indah didunia ini. Engkau adalah sosok inspirasiku bu, sungguh bu aku rindu padamu...” pintaku dalam hati. Setelah itu, aku lanjut beristirahat dan menunggu matahari terbit.
Kicauan burung terdengar merdu, Desiran angin yang berirama seakan membuat jiwa ini tenang menikmati suasana pagi hari. Matahari memperlihatkan sinar keelokkannya, menembus gubuk reot ini. nela dan nazwa sudah siap untuk berangkat kesekolah, “nah adik-adik abang sudah pada cantik, udah siap yah sekolah hari ini semangat!!! Abang juga akan semangat mencari uang untuk membayar buku lks kalian..” kataku dengan senyuman yang meyakinkan mereka. “iya abang, nela sama nazwa hari ini belajarnya semangat..” . Hari-hari kujalani dengan semangat jiwa yang penuh, kubayangkan senyum bahagia nela dan nazwa nantinya. Kini aku berjalan menelusuri jalanan yang sesekali ku dilihat dan dipandang orang banyak, tanpa rasa perduli kemeneruskan perjalanan dan tujuan ku. Hingga kumenemukan hal yang kucari aku bekerja menjadi tukang sementara untuk beberapa hari ini agar menambah biaya untuk membayar kebutuhan nela dan nazwa.
Mulai dari ini aku belajar, berusaha semaksimal mungkin tanpa ada kata henti hingga tuhan berkata waktunya pulang. Aku butuh karakter yang berjiwa besar yang mampu merubah seluruh mimpi buruk ini. Rakyat besar yang selalu muncul dalam benakku mereka yang kaya akan bertambah kaya, dan rakyat kecil mereka yang miskin bertambah miskin, arus kehidupan yang kulalui tak boleh kubiarkan terus-menerus seperti ini, bagaimana dengan generasi penerus bangsa selanjutnya. Bagaimana nasib anak bangsa yang akan datang? Tidak akan ada kemajuan di negeri ini. Mulai dari hal kecil yang kulakukan, semoga akan berdampak besar bagi orang lain. Beberapa hari selama ku bekerja sebagai tukang sementara, aku mendapatkan hasil yang cukup memuaskan akhirnya uang yang kuhasilkan ini cukup untuk membayar buku lksnya nela dan nazwa mereka pasti akan senang sekali mendengar kabar gembira ini. Siang yang terik membakar kulitku, tak perduli berapa banyak tetesan keringat yang terbuang yang terpenting saat ini nela dan nazwa bisa kembali bersekolah dengan baik. Saat sampai didaerah tempat tinggalku, aku melihat banyak orang yang sedang mengerumuni gubuk tua dan reot itu, kuperhatikan sekilas seperti tidak asinng lagi.. yah! Mereka adalah nela dan nazwa yang sedang menangis dan berteriak sesekali memangilku. Aku segera berlari menghampiri mereka “ada apa ini!..” mata ku tajam melihat sosok orang yang kuhormati dan kurawat sealama ini sedang pingsan dan mengeluarkan banyak darah disepanjang tubuhnya. “Ayah..!!!!!” aku berteriak histeris, “Ayah bangun ayah...” aku segera berlari membawa ayahku kerumahsakit terdekat dikota ini, nela dan nazwa kutitipkan pada salah satu warga yang kupercayai. “Ayah.. ayah bertahan yah.. abang pasti akan berusaha untuk menyembuhkan ayah..” saat sampai di rumah sakit terdekat semua orang memandangiku dan menutup hidung. Aku tetap berlari dan minta pertolongan pada salah satu suster, “sus tolong ayah saya sus... selamatkan beliau, saya akan kasi apapun yang sayang miliki asalkan suster dan dokter bisa menyembuhkan ayah saya...” aku terisak menangis dihadapan mereka. “maaf tuan sebelum melakukan pengecekan ataupun proses penyembuhan anda terlebih dahulu harus memberikan uang muka kepada kami dan transaksi agar kami yakin dan percaya bahwa anda akan membayar seluruh aspek yang akan digunakan untuk menyembuhkan ayah anda..” pinta suster itu kepadaku. “sus tolong saya mohon sekali utamakanlah dahulu nyawa ayah saya sus, selama itu saya akan bekerja mencari uang sebanyak-banyaknya untuk membayar utang budi saya kepada rumah sakit ini saya mohon sus.... saya hanyalah rakyat miskin yang tinggi dipinggiran kota Jakarta..” aku bersujud memohon dikaki suster aku tak perduli kini semua orang mulai memandangiku lagi dan mulai berbisik-bisik membicarakan tingkah laku bodohku ditempat umum ini. “maaf tuan kami tetap tidak berani untuk langsung melakukan proses penyembuhan ayah anda sebelum tuan membayar uang muka sebagaimana peraturan ini sudah berlaku sejak tahun 2003..” , “dasar biadab! Terbuat dari apakah HATI kalian ini!!!.. tak pernah kah ada rasa kasihan dan sedih kalian tentang kami..”. Aku langsung membawa pergi Ayahku, oh Tuhan kemanakah arah pergi yang harus kutempuh saat ini, kuterus melanjutkan perjalanan ini disetiap rumah sakit banyak yang menolak ku seperti awal. Ketika berada di salah satu rumah sakit didekat daerah kota Tangerang alhamdulilah suster dan dokter disitu mau menolong kondisi kami, saat dilakukan pengecekan didalam ruangan aku disuruh menunggu diluar namun apa daya dokter itu keluar dengan menyampaikan sebuah pesan yang tak sesuai dengan harapan. “Maaf nak, Ayah kamu telat diberikan pertolongan pertama, sehingga pukul 20.35 tadi ayahmu sudah Tiada..” semudah itu dokter mengatakannya. Aku hanya bisa berkata “Dok, terimakasih atas bantuan yang telah diberikan dan maaf atas tindak kecerobohan saya yang merepotkan kalian..” setelah itu aku membawa pulang jasad ayahku dan diantar oleh pak dokter yang baik hati itu.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri, didalam hatiku aku sudah menampar diriku dengan sangat keras. Andaikan cahaya Ilahi itu memperlihatkan jalan kemudahan yang sesungguhnyaa, kehidupan yang selama ini tak tersempurnakan mungkin inilah dia agar Ayah tak merasakan kesakitan yang terlalu lama dengan alunan senada kami memandikan jasad ayah bersama-sama dan kemudian memakaikan kain kafan yang telah disiapkan oleh warga. Keputihan wajahnya yang terpancar, membuat senyum ini terukir membayangkan Ia akan hidup kekal yang abadi dan bahagia disana bertemu dengan Ibu. Nela dan nazwa tidak henti-hentinya menangis saat proses penguburan dilaksanakan. “adik-adik abang kan pintar masa sih nangis, ayah tapi sangat senang disana bertemu ibu.. nah nela dan nazwa kan masih punya abang sebaiknya nela dan nazwa kini yang harus buat abang bangga kalau nela dan nazwa sukses dan berprestasi pasti ayah dan ibu dari atas sana juga akan bahagia melihat nela nazwa dan abang disini..” aku berusaha menenangkan adik-adikku dengan kata-kata. Makna kata-kata yang kutuangkan pada mereka sama sekali tidak ada artinya untuk menenangkan hatiku. Sesekali semua orang menatap kami sebagai yatim piatu. Setelah dari proses penguburan dan untuk keterakhir kalinya melihat wajah Ayah yang kami sayangi, aku dan adik-adik meninggalkan tempat peristirahatan yang tenang itu.
Kami semua membutuhkan pendidikan yang pantas di era modern ini, kami butuh peluang yang dapat kami samakan dengan kesetaraan penduduk di penjuru negeri ini. cukuplah sudah jika tak ada yang mau berusaha maka yang miskin akan tetap miskin dan yang kaya akan bertambah kaya raya. INDONESIA, negara yang dipandang oleh negara lain sebagai negara yang akan kaya rempah-rempahnya, kaya solidaritasnya, keramah-tamahannya. Sungguh aku tak merasakan semua hal itu. Tikus-tikus yang berdasi, yang hanya bisa memerintah dan menguasai disetiap daerah yang menjadi pertahanan kekayaannya. Aku kini berdiri ditanah negeri kelahiranku bersama keluarga kecil serta rakyat yang tersingkirkan. Jangankan hanya kota ku, kota lain tentu pasti ada yang merasakan kesengsaraan kesakitan dan kelaparan seperti rakyat kecil ini, sungguh negeri yang berada ditengah kegengsian politik dan ekonomi tersaingin oleh beberapa faktor yang tak bisa kami mengerti. Yang kami butuhkan saat ini hanyalah kunci pertahanan yang berkarakter dalam artian kesempurnaan dalam menjalankan hidup mendapatkan tempat tinggal yang layak, pakaian, pendidikan makanan serta pekerjaan yang bisa menstabilkan perekonomian di seluruh negeri ini.
Sungguh disini, dipinggiran kota ini ada sebuah kehidupan yang pantas dilirik oleh para pemimpin rakyat dan rakyat besar, setiap kami yang hidup disini memiliki mimpi-mimpi yang sedang kami usahakan agar menjadi nyata. Kami membutuhkan hak kami untuk dilindungi sebagian dari kami sudah berupaya besar membentuk karakter untuk generasi kami. Aku berkata dalam hati “aku berasal dari generasi yang bisa membuat sebuah perubahan namun, tak ada yang pernah tahu kapan kami bisa melakukannya tanpa bantuan pemerintah hal ini seharusnya merupakan hal yang pantas diperjuangkan oleh seluruh warga bangsa. Kami bukan babu bukan juga budak yang gampang diremehkan. Terimakasih Indonesia ku jika engkau mendengarkan suara jeritan kami. Aku asep aku dan adik-adik ini yang akan berusaha terus-meneruskan memperjuagkan atas hak apa yang pantas diperjuangkan demi kesejahteraan hidup ini. Sungguh Negeriku Indonesia berada diujung KEGELAPAN.
Cerpen
KARYA : R.A.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar